Mendisiplinkan Anak dengan Kasih Sayang

Mengingat Shahlaa udah hampir 16bulan, sudah mulai belajar berkomunikasi,  sudah lebih ‘bertingkah’ yang sering kadang bikin emosi naik-turun, udah saatnya juga lah gue sebagai new mom harus membekali diri dengan ilmu2 parenting. Better late than never. Akhirnya Sabtu 9 Oktober 2010 kemaren gue ikutan seminar dengan judul “Mendisiplinkan Anak dengan Kasih Sayang”, di JDC, pembicaranya Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Kita dan Buah Hati.

Oke, biar makin ngelotok dan sekalian bisa sharing sama yang lain yang mungkin membutuhkan, gue coba review disini yah. Overall, seminar ini oke banget, nambah ilmu, inspiratif, motivating, membuka mata, dan yang pasti Insya Allah bisa membekali kita buat jadi orang tua yang lebih baik lagi buat anak (anak) kita kelak dan marilah kita mulai revolusi pengasuhan anak.

Banyak sekolah yang membimbing kita untuk menjadi seorang profesional atau apapun, tapi tidak ada satu sekolahpun yang mengajarkan kita untuk menjadi orang tua.

Senyum, itulah kata yang selalu disebut oleh ibu Elly Risman. Setiap berkomunikasi dengan anak selalu awali dengan senyuman, kalau  hati senang, otak menyerap lebih banyak.

Jadi, gue pun nge review ini sambil senyum loh *wink*. Inilah kira2 hasilnya..maap yah kalo lompat2, sambil inget2 juga nih…

Anak butuh 3 Gizi : Fisik, Emosi, dan Spiritual. Kalau selama ini kita selalu memenuhi gizi fisiknya dengan makanan seimbang, kita pun harus memenuhi gizi emosi dan spiritualnya.

Disiplin itu bukan peraturan, disiplin adalah pengasuhan, mengajar kelakuan, dan membangun kontrol dalam diri. Kerangka disiplin adalah sebagai berikut :

Untuk mencapai harapan yang wajar, disiplin itu dilandaskan oleh komunikasi dengan dorongan dan respect.

Hukuman & Hadiah tidak memberi kesempatan pada anak untuk membuat pilihan dan belajar bertanggung jawab. Karena pada intinya seharusnya kita membiasakan anak untuk BMM yaitu Berfikir – Memilih – Mengambil keputusan, atau Think – Choose – Decide.

Biasakan bertanya pada anak, agar kita tahu apa yang mereka rasakan. Dengan anak usia <7th tidak bisa reactive. Jika anak dipaksa untuk patuh, anak tidak akan pernah belajar berpikir apa yang baik untuk dirinya sendiri, dan mereka tidak punya kesempatan untuk mengambil keputusan. Sebagai contoh kecil misalnya, kalau anak sedang lari-lari, kita tidak perlu teriak-teriak dengan bilang “Jangan lari-lari !!!”. Hindari kata JANGAN.  Lebih baik dengan bertanya dia sedang apa, kenapa dia melakukan itu, dengan kita bertanya, anak akan menjawab dan otomatis berpikir. Berpikir merupakan pijakan dasar disiplin. Karena pada anak usia <7th yang berlangsung adalah  Emosi -> Aksi -> Pikiran, sedangkan seharusnya untuk dewasa adalah Emosi -> Pikiran -> Aksi.

Pukulan sebagai salah satu bentuk hukuman menanamkan lebih banyak ketakutan dibandingkan pengertian. Jangan memukul kalau hanya untuk menyakiti, pukulan hanya menghentikan kelakuan sesaat. Anak usia <7th sel-sel otak nya belum terkoneksi secara sempurna, mereka TIDAK berhak dipukul. Justru seharusnya diarahkan, dialihkan, dan dibimbing. Anak usia 3th yang sering dipukul cenderung lebih agresif di usia 5th. Dan anak agresif akan lebih sering dipukul. Ini jadi seperti lingkaran setan.

Ingat untuk selalu memberikan pujian pada anak. Sekecil apapun bentuknya.

Jangan pernah membandingkan mereka dengan siapapun, setiap anak itu unik, dan jangan pernah pula ‘mengecap’ mereka dengan sesuatu yang buruk. Misalnya, “kamu memang anak nakal!”

Konsisten dengan kesepakatan aturan yang telah dibuat.

Orang tua harus menjadi teladan bagi anak2nya. Jangan hanya menuntut anak untuk begini-begitu tanpa memberi contoh yang baik.

Anak yang sedang temper tantrum membutuhkan pelukan/dekapan dan ucapan cinta.

Mengapa anak bertingkah laku tidak seperti yang diharapkan ? Untuk seusia batita, biasanya mereka melakukan itu lebih karena mereka belum mampu, atau mungkin karena rasa ingin tahu, atau sekedar minta perhatian. Kembali lagi seperti yang ibu Elly Risman bilang, kalo usia <7th sel2 otak mereka belum terkoneksi semua, ya jadi sangat wajar kalo masih banyak tingkah laku mereka yang tidak sesuai harapan.

Nah, kalo shahlaa nih lagi seneng2nya teriak2, kadang suka ngelempar barang/mainannya, dan bahkan mukul. Oh no…ngeri banget gue buat yang satu itu. Mungkin karena dia belum ngerti dan jadinya itulah cara dia mengekspresikannya, atau ya itu dia karena rasa ingin tahu. Dengan dia lempar/pukul gimana reaksi ‘korban’nya…oow!! Dari artikel yang pernah gue baca, biasanya anak yang melakukan itu karena energi nya yang berlebih. Waduh..jadi orang tua lah yang harus pinter2 cari kegiatan yang dapat menyalurkan energi lebih nya itu. Setelah menyerap hasil seminar ini ya menurut gue tinggal gimana kita sebagai orang tua mengarahkannya aja, atau mengalihkan perhatian nya tanpa harus marah2, ngomong panjang lebar, atau bahkan menghukum misalnya dengan pukulan. Inget aja…sel2 otak mereka belum terkoneksi sempurna.🙂

Oiya, nyinggung tentang pemberian gadget ke anak usia <20th tanpa penjelasan dan alasan yang tepat dapat mengakibatkan bencana otak. What?? Ngeri !! Karena dengan mudahnya mereka mengakses internet yang mungkin sudah tidak dalam kendali orang tua. Efek jangka panjang nya ya yang banyak terjadi sekarang ini kali yah, seks bebas, pemerkosaan, kekerasan. Ibu Elly banyak banget cerita tentang contoh2 nyata yang sulit dipercaya tapi ya memang tanpa disadari ada disekitar kita. Naudzubillahimindzalik deh😦

Nah, satu lagi yang lumayan ‘kena’ di gue mah ya tentang Quality time. Menurut beliau, quality time is not about being together. Jujur aja nih, gue sendiri kadang suka lalai buat hal yang 1 ini. Ini BB maunya nempeeeel terus..hahaha..kadang sambil jagain shahlaa main, nyenyenin, atau apa lah BB tetep ditangan. Kemaren itu bu Elly bilang, coba deh pegang BB/HP dll nya itu diatas jam 9 aja, jadi bales2 message malem ajah…hihihii…sulit juga yah? But, i know i can🙂

Kalo gue coba rangkum disini, intinya sih komunikasi yah. Ya komunikasi 2 arah, jadi ngga cuma orang tua aja yang sepihak bla-bla-bla mau ini-itu harus begini-begitu, tapi lebih empati, menghargai perasaan anak, dan dengan membiasakan bertanya. Tentunya komunikasi disini harus disesuaikan juga dengan usia anak. Nah, katanya sih bakalan ada sesi selanjutnya dari seminar ini yang ngebahas tentang komunikasi pada anak. For sure, mau banget ikutan lagi mudah2an waktu nya pas dan paparhazie pun bisa ikutan.

Aduuh..kayaknya masih banyak lagi yang mau di share, tapi agak2 lupita sayah..nanti pas muncul langsung di update deh, atau kita tunggu juga review dari twitmom @bheboth, @resti0510 , @indahkurniawaty di blog nya masing2🙂 , okeh ???

5 responses to “Mendisiplinkan Anak dengan Kasih Sayang

  1. Pingback: sekolah buat jadi orang tua.. | welcome to my words

  2. Hai Mba Citra,

    Thank you for sharing yaaa…
    Tulisannya kenaa banget di gue,tyt selama ini pola gue salah. Maafkan ibu ya Haidar..😦. Ntr klo ada seminar kayak gini lagi gue muesti ikut.

    Btw, intermezzo mba citra, kayaknya aku kenal suami mba deh..dulu anak FE.Trisakti angkatan 99 bukan ya? asdos statistik-kah? aku FE Trisakti angkatan 00, and jadi asdos junior statistik.🙂. Klo salah maaf yaa mba..🙂.

    • Hellooo..
      Iyah..emang pas bgt seminar nya..nanti kalo ada lagi kita barengan yah..hihii

      Eyaaammpunn..iya becuuulll..nanti aku sampein deh yaa..small world..🙂
      Citra aja ahhh..kan kita seumur..hahaha..
      Salam kenal buat haidar dr shahlaa yaaa

  3. Iyah cit…🙂. Harusnya kita barengan tu kmrn, klo ga ada acara keluarga,huhuhuhuhu.😦, kepaksa aku cancel deh pdhl dah bayar di awal2.
    yup, besok klo ada lagi janjian yuukk…🙂.

    Hehehehe, moga2 dia inget diriku ya cit, maklum ga gaul2 banget dulu jaman kuliah. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s